Beras dikenal sebagai sumber hidrat yang baik dengan kandungan sekitar
70 – 80%, sehingga berfungsi sebagai sumber tenaga. Butir beras sebagian besar terdiri
atas pati, yaitu suatu zat hidrat arang yang tersusun dari unit-unit glukosa.
Pati beras tersusun atas dua komponen, yaitu amilosa dan amilopektin. Dan
perbandingan jumlah amilosa dan amilopektin dalam beras menentukan tingkat
kepulenannya (pada prinsipnya semakin tinggi kandungan amilopektinnya, maka
beras terasebut semakin pulen atau lekat/lengket).
Komponen kedua terrbesar dari beras adalah
protein. Kandungan protein pada beras adalah 8% pada beras pecah kulit dan 7%
pada beras giling. Beras juga berperan sebagai sumber protein, karena meskipun
kandungan proteinnya relatif sedikit, tetapi karena dikonsumsi dalam jumlah
banyak maka peranannya sebagai sumber protein sangat besar.
Ada perbedaan antara beras biasa dengan beras
ketan dalam bentuknya. Beras biasa mempunyai tekstur yang keras dan transparan,
sedangkan beras ketan lebih rapuh, butirnya lebih besar dan warnanya putih opak
(tidak transparan).
Perbedaan lainnya adalah dalam hal bahan yang
menyusun pati. Komponen utama pati beras ketan adalah amilopektin, sedangkan
kadar amilosanya hanya berkisar antara 1 – 2% dari kadar pati seluruhnya. Beras
yang mengandung amilosa lebih besar dari 2% disebut beras biasa atau bukan
beras ketan. Pemasakan akan mengubah sifat beras ketan menjadi sangat lengket,
dan mengkilat. Sifat ini tidak berubah dalam penyimpanan beberapa jam atau
bahkan beberapa hari. Amilopektin merupakan polisakarida
yang tersusun dari monomer
α-glukosa (baca: alfa glukosa). Amilopektin merupakan molekul
raksasa dan mudah ditemukan karena menjadi satu dari dua senyawa
penyusun pati,
bersama-sama dengan amilosa.
Walaupun tersusun dari monomer yang sama, amilopektin berbeda dengan amilosa,
yang terlihat dari karakteristik fisiknya. Secara struktural, amilopektin
terbentuk dari rantai glukosa yang terikat dengan ikatan 1,6-glikosidik, sama
dengan amilosa. Namun demikian, pada amilopektin terbentuk cabang-cabang
(sekitar tiap 20 mata rantai glukosa) dengan ikatan 1,4-glikosidik. Amilopektin
tidak larut dalam air. Amilosa merupakan polisakarida,
polimer yang tersusun dari glukosa
sebagai monomernya.
Tiap-tiap monomer terhubung dengan ikatan 1,6-glikosidik. Amilosa merupakan
polimer tidak bercabang yang bersama-sama dengan amilopektin
menjadi komponen penyusun pati.
Dalam masakan, amilosa memberi efek "keras" bagi pati.
Oleh
karena itu dalam pengolahannya atau cara memasak beras biasa dan beras ketan
tidak sama. Beras biasa dicuci dan dapat langsung diamasak. Sedangkan beras
ketan terlebih dulu dilakukan perendaman. Perendaman tersebut bertujuan untuk
mempermudah beras ketan matang hingga bagian dalam saat dimasak, karena saat
direndan beras ketan menyerap air (karbonhidrat bersifat hidrofilik).
2.) Dalam memasak nasi secara
sedehana(ngeliwet), beras direbus atau boiling hingga airnya berkurang, tapi
jangan sampai air habis karena dapat menyebabkan bagian bawah menjadi karaka
tau gosong. Beras yang sudah setengah matang itu diangkat dan didiamkan atau
diaduk-aduk sejenak agar air yang masih ada terserap, hal ini dilakukan tanpa
ada api atau tidak berada diatas api.
Selanjutnya
beras yang telah diboiling dikukus. Mengukus atau steaming, adalah memasak
bahan makanan dengan uap air mendidih. Meskipun bahan makanan tidak berhubungan
atau kontak langsung dengan air mendidih namun masih tetap termasuk dalam
teknik memasak basah. Dalam metode ini perubahan warna, tekstur dan aroma yang
terjadi lebih banyak dibanding dengan teknik merebus dan menyetup. Efek dari
sistem ini sama dengan sistem basah lainnya yaitu menjadiakn makanan lebih
lunak dan lembut. Karena bahan
makanan tidak bersentuhan langsung dengan air maka kehilangan nilai gizi yang
terjadi lebih sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar