Senin, 14 November 2016

Pangan Darurat (Emergency Food Product)


         Produk Pangan Darurat (Emergency Food Product)
Pangan darurat (Emergency Food Product), merupakan pangan khusus yang dikonsumsi pada saat darurat. Karakteristik kritis yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pangan darurat adalah aman, memiliki nilai gizi yang cukup, dapat diterima, mudah dipindahkan dan mudah digunakan (Zoumas et al., 2002). Pangan darurat sendiri dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu produk pangan yang dirancang untuk kondisi dimana air bersih dan bahan bakar untuk memasak masih tersedia, dan produk pangan yang dirancang untuk menghadapi situasi dimana air bersih tidak tersedia dan tidak bisa memasak. Tujuan utama pengembangan pangan darurat ialah mengurangi jumlah kematian diantara pengungsi dengan menyediakan pangan bergizi lengkap sebagai sumber energi satu-satunya. Pangan darurat juga diharapkan dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan usia (tidak termasuk bayi berusia 0-12 bulan) (Syamsir, 2008).
Makanan yang tepat untuk situasi darurat (Emergency Food Product) ini adalah makanan yang mengandung semua kalori dan nutrisi seperti layaknya a full meal. Energi level yang direkomendasikan untuk suatu produk pangan darurat (Emergency Food Product) adalah 2100 kkal/ hari. Total energi yang disumbangkan oleh karbohidrat adalah 40-50% dengan 50% didalamnya berasal dari pati, dengan protein 7-10% dari total kalori tersebut dan lemak 35-45%. Selain itu, ada empat karakteristik lainnya yang harus dipenuhi oleh suatu produk pangan darurat siap santap yaitu aman dikonsumsi dengan warna, bau, aroma, tekstur dan penampakan yang dapat diterima, kemudahan dalam pendistribusian, kemudahan dalam penggunaan dan memiliki kandungan nutrisi yang lengkap sesuai rekomendasi Instiute of Medicine (1995) dalam Suhandono (2010).
Adapun karakteristik Pangan Darurat (Suhandono, 2010) :
a.    Dapat dikonsumsi dalam kondisi bergerak, tanpa perlu melakukan preparasi atau proses memasak
b.    Memenuhi kebutuhan gizi untuk populasi dengan umur diatas 6 bulan dengan acuan pemenuhan kebutuhan kalori 2100 kkal/ hari
c.    Dapat diterima oleh semua etnik dan semua agama, serta tidak menggunakan bahan yang dapat menimbulkan alergi pada orang tertentu
d.    Dapat dijatuhkan dari udara tanpa merusak produk dan tidak mencelakakan orang yang ada dibawah
e.    Mempunyai nilai gizi makro dan mikro
Beberapa komposisi bahan yang direkomendasikan (Zoumas et al., 2002) :
1.    Sumber karbohidrat : tepung terigu, jagung, oats dan tepung beras
2.    Sumber protein : produk-produk kacang seperti konsentrat atau isolat protein; susu bubuk seperti kasein dan turunannya; campuran antara bahan dasar serealia dan protein harus memiliki skor asam amino ≥ 1,0
3.    Sumber lemak : hidrogenasi parsial dari kacang kedelai, minyak kanola dan minyak bunga matahari
4.    Gula : Glukosa, high fructose corn syrup dan maltodekstrin
5.    Vitamin dan mineral dapat ditambahkan untuk meningkatkan profil produk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar