Senin, 14 November 2016

glukosamin dan condroitin sulfat pada ceker ayam


1.1  Latar Belakang
Ceker ayam (shank atau chicken feet) merupakan bagian dari tubuh ayam (kaki), terdiri atas komponen kulit, tulang rawan, otot, dan kolagen. ceker ayam memiliki kandungan a-kitin yang bermanfaat untuk memproduksi produk derivatnya yaitu sebagai bahan baku senyawa glukosamin (Jalal, et al., 2012). Tulang rawan ayam memiliki kandungan kondroitin sulfat yang relatif tinggi (Luo et al. 2002). Gabungan glukosamin dan kondroitin bermanfaat untuk mengobati penyakit gejala radang sendi atau osteoarthritis. Secara empiris dan teoritis ceker ayam dipercaya bermanfaat untuk kesehatan tulang. Sayangnya hingga saat ini ceker ayam diangap sebagai limbah dari peternakan ayam yang masih sangat minim pemanfaatannya (Milala, 2014). Berdasarkan data statistik pertanian tahun 2003, jumlah potongan kaki ayam yang dihasilkan 1.297.333.333 potong yang siap dimanfaatkan untuk memproduksi gelatin (Suryana, 2004). Kemudian, jumlah pemotongan ayam broiler di Indonesia pada tahun 2006 sebanyak 8,61 juta ton dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 9,18 juta ton (Wahyu dan Gabriel, 2007). Hal ini berarti, jumlah potongan kaki ayam juga semakin meningkat. Saat ini ceker ayam baru hanya dimanfaatkan sebagai campuran sup, pembuatan gelatin dan krupuk ceker.
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang progresif dimana rawan kartilago yang melindungi ujung tulang mulai rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkhondral yang menimbulkan rasa sakit dan hilangnya kemampuan gerak (Depkes, 2006). Lebih dari 85% pasien OA telah mengganggu aktivitas. Nyeri sendi adalah keluhan yang paling umum dan paling dominan manifestasi dari penyakit OA, sehingga sebagian besar pasien OA datang ke rumah sakit karena mengeluh sakit. Gejala ini adalah paling dominan di osteoarthritis dan tidak ada terapi yang dapat mengobati penyakit ini (Adnan, 2008). Pegobatan pada penderita osteoarthitis dilakukan dengan pemberian glukosamin. Glikosamin merupakan zat alami yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam struktur sendi dan penelitian menunjukkan produk glukosamin lebih unggul dalam pengobatan osteoarthritis dibandingkan pengobatan tradisional. Fungsi utama dari glukosamin adalah untuk menstimulasi pembuatan zat-zat yang dibutuhkan untuk perbaikan sendi.
Glukosamin sebagai obat osteortitis dari produk hewani selama ini mengandalkan sirip ikan hiu. Sirip ikan hiu mengandung kartilago atau tulang rawan yang mampu menjaga pertumbuhan dan penyebaran sel tumor, membantu mengurangi rasa sakit dan nyeri pada tulang, membantu menghindari penyakit rematik, memperkuat dan menjaga fungsi tulang, membantu menghilangkan rasa pegal dan encok, menjaga kesehatan dan fasilitas tubuh serta menghindari kelainan tulang belakang yang bengkok (Musfiroh dkk, 2009). Obat yang dibuat dari sirip ikan hiu itu cukup efektif, namun bahan bakunya sulit diperoleh dalam jumlah besar tanpa mengganggu keseimbangan biota laut, serta harga sirip ikan hiu cenderung mahal dan tidak semua orang dapat mengkonsumsinya. Selain itu, ikan hiu terancam punah (Bararah, 2011). Organisasi pelindung binatang WildAid mengatakan lebih dari 70 juta hiu dibunuh setiap tahun, sehingga perlu dicarikan alternatif sumber tulang rawan yang memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan ikan hiu. Salah satunya adalah pemanfaatan ceker ayam.
Tulang rawan ayam memiliki kandungan kondroitin sulfat sebesar 75,5 ± 4,2% (Luo et al, 2002) dan kandungan glukosamin 14,08 % (Milala, 2014). Ekstraksi gelatin dari kulit ceker ayam dari hasil proses curing asam asetat memberikan yield 8,74% dengan kadar protein 81,59%, dan kadar lemak 23,50% (Puspawati, 2012). Ceker ayam juga telah dibuat sebagai serbuk kaldu fungsional sehingga praktis penggunaaannya. Bubuk kaldu ceker ayam instan  dibuat dari seluruh bagian ceker ayam yang dipresto kecuali tulangnya. Pengujian antiinflamasi dosis 200 mg/ kg BB tikus bubuk kaldu ceker ayam instan memiliki kemampuan dalam menghambat peradangan udema (inhibisi radang) dari jam ke-1 yaitu sebesar 41,76% hingga jam ke-5 terus mengalami peningkatan hingga mencapai 78,19% (Widyaningsih dkk, 2014).
Penelitian yang dilakukan sejauh ini tentang metode ekstraksi dan pengujian anti inflamasi senyawa bioaktif ceker ayam dalam bentuk ekstrak, sehingga perlu dilakukan penelitian (tahap I) untuk pengaplikasian ekstrak ceker ayam dalam pembuatan formulasi produk supleman dan kaldu instan.  Dilanjutkan dengan penelitian tahap II untuk mengetahui pengaruh konsumsi produk suplemen dan kaldu instan bagi inflamasi osteoartitis pada kaki tikus.
1.2  Tujuan Penelitian
       Penelitian ini bertujuan untuk :
1.   Menghasilkan produk fungsional kaldu instan dan suplemen ekstrak ceker ayam
2.   Melakukan pengujian khasiat produk fungsional kaldu instan dan suplemen ceker ayam sebagai antiinflamasi osteoartitis pada kaki tikus

1.3  Manfaat Penelitian
Mengembangkan potensi ceker ayam sebagai pangan fungsional yang bermanfaat sebagai ant-iinflamasi osteoarthritis. Produk ceker ayam juga diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti tulang rawan (sirip) ikan hiu bagi kesehatan sekaligus mencegah kepunahan ikan hiu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar