1.1 Latar
Belakang
Ceker ayam (shank atau chicken feet)
merupakan bagian dari tubuh ayam (kaki), terdiri atas komponen kulit, tulang
rawan, otot, dan kolagen. ceker
ayam memiliki kandungan a-kitin yang bermanfaat
untuk memproduksi produk derivatnya yaitu sebagai bahan baku senyawa
glukosamin (Jalal, et al., 2012). Tulang rawan ayam memiliki kandungan
kondroitin sulfat yang
relatif tinggi (Luo et al. 2002). Gabungan glukosamin
dan kondroitin bermanfaat untuk mengobati penyakit gejala radang sendi atau
osteoarthritis. Secara empiris dan teoritis ceker ayam dipercaya bermanfaat untuk kesehatan tulang. Sayangnya hingga
saat ini ceker ayam diangap sebagai limbah dari peternakan ayam yang masih
sangat minim pemanfaatannya (Milala, 2014). Berdasarkan
data statistik pertanian tahun 2003,
jumlah potongan kaki ayam yang dihasilkan 1.297.333.333
potong yang siap dimanfaatkan untuk memproduksi gelatin (Suryana, 2004).
Kemudian, jumlah pemotongan ayam broiler di Indonesia pada tahun 2006 sebanyak
8,61 juta ton dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 9,18 juta ton (Wahyu dan
Gabriel, 2007). Hal ini berarti,
jumlah potongan kaki ayam juga semakin meningkat. Saat ini ceker ayam baru
hanya dimanfaatkan sebagai campuran sup, pembuatan gelatin dan krupuk ceker.
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif
yang progresif dimana rawan kartilago
yang melindungi ujung tulang mulai rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang
subkhondral yang menimbulkan rasa sakit
dan hilangnya kemampuan gerak (Depkes,
2006). Lebih dari 85% pasien OA telah mengganggu
aktivitas. Nyeri sendi adalah keluhan yang paling umum dan paling dominan
manifestasi dari penyakit OA, sehingga sebagian besar pasien OA datang ke rumah
sakit karena mengeluh sakit. Gejala ini adalah paling dominan di osteoarthritis
dan tidak ada terapi yang dapat mengobati penyakit ini (Adnan, 2008). Pegobatan pada penderita osteoarthitis dilakukan dengan
pemberian glukosamin. Glikosamin
merupakan zat alami yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dalam struktur
sendi dan penelitian menunjukkan produk glukosamin lebih unggul dalam
pengobatan osteoarthritis dibandingkan pengobatan tradisional. Fungsi utama
dari glukosamin adalah untuk menstimulasi pembuatan zat-zat yang dibutuhkan
untuk perbaikan sendi.
Glukosamin sebagai
obat osteortitis dari produk hewani selama ini mengandalkan sirip ikan hiu. Sirip
ikan hiu mengandung kartilago atau tulang rawan yang mampu menjaga pertumbuhan
dan penyebaran sel tumor, membantu mengurangi rasa sakit dan nyeri pada tulang,
membantu menghindari penyakit rematik, memperkuat dan menjaga fungsi tulang,
membantu menghilangkan rasa pegal dan encok, menjaga kesehatan dan fasilitas
tubuh serta menghindari kelainan tulang belakang yang bengkok (Musfiroh dkk,
2009). Obat yang dibuat dari sirip ikan hiu itu
cukup efektif, namun bahan bakunya sulit diperoleh dalam jumlah besar tanpa
mengganggu keseimbangan biota laut, serta harga
sirip ikan hiu cenderung mahal dan tidak semua orang dapat mengkonsumsinya.
Selain itu, ikan hiu terancam punah (Bararah, 2011). Organisasi pelindung binatang WildAid mengatakan lebih
dari 70 juta hiu dibunuh setiap tahun, sehingga perlu dicarikan alternatif
sumber tulang rawan yang memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan ikan hiu.
Salah satunya adalah pemanfaatan ceker ayam.
Tulang
rawan ayam memiliki kandungan
kondroitin sulfat sebesar 75,5 ± 4,2% (Luo et al, 2002) dan kandungan glukosamin 14,08 % (Milala, 2014). Ekstraksi gelatin dari kulit ceker ayam
dari hasil proses curing asam asetat memberikan yield 8,74% dengan kadar
protein 81,59%, dan kadar lemak 23,50% (Puspawati, 2012). Ceker ayam juga telah dibuat sebagai serbuk kaldu fungsional sehingga
praktis penggunaaannya. Bubuk kaldu ceker ayam instan dibuat dari seluruh bagian ceker ayam yang
dipresto kecuali tulangnya. Pengujian
antiinflamasi dosis 200 mg/ kg BB tikus bubuk kaldu ceker ayam instan memiliki kemampuan dalam menghambat peradangan udema (inhibisi radang)
dari jam ke-1 yaitu sebesar 41,76% hingga jam ke-5 terus mengalami peningkatan
hingga mencapai 78,19% (Widyaningsih dkk, 2014).
Penelitian yang
dilakukan sejauh ini tentang metode ekstraksi dan pengujian anti inflamasi
senyawa bioaktif ceker ayam dalam bentuk ekstrak, sehingga perlu dilakukan
penelitian (tahap I) untuk pengaplikasian ekstrak ceker ayam dalam pembuatan formulasi produk supleman
dan kaldu instan. Dilanjutkan dengan
penelitian tahap II untuk mengetahui pengaruh konsumsi produk suplemen dan
kaldu instan bagi inflamasi osteoartitis pada kaki tikus.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk :
1. Menghasilkan
produk fungsional kaldu instan dan suplemen ekstrak ceker ayam
2. Melakukan
pengujian khasiat produk fungsional kaldu instan dan suplemen ceker ayam
sebagai antiinflamasi osteoartitis pada kaki tikus
1.3 Manfaat Penelitian
Mengembangkan potensi ceker
ayam sebagai
pangan fungsional yang bermanfaat sebagai ant-iinflamasi osteoarthritis. Produk
ceker ayam juga diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti tulang rawan
(sirip) ikan hiu bagi kesehatan sekaligus mencegah kepunahan ikan hiu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar