2.3
CMC
Makfoeld dkk (2002) menyatakan,
CMC merupakan turunan selulosa, terbentuk dari asetilasi gugus hidroksil bebas
pada rantai selulosa, merupakan poli ion yang terdispersi dalam fase air. Goff
(2002) menyatakan, selulosa terdiri dari monomer glukosa tetapi tidak dapat
dicerna oleh manusia. Selulosa dapat larut dan ditambahkan sebagai bahan
makanan bila ditambahkan carboxymethyl yang
dapat membuka struktur polimer dan kemudian dinetralisasi dengan ion sodium.
Menurut Goff (2002), CMC
memiliki sifat mudah terlarut dalam campuran, memiliki kapasitas pengikat air
yang tinggi. Estiasih (2006) menyatakan, bahwa pelarut yang digunakan untuk CMC
hanya air, baik panas maupun dingin. Sebelum dicampur air sebaiknya dicampur
dulu dengan bahan kering seperti gula pasir atau gula tepung. Budiyanto (2002)
menambahkan, CMC juga sering digunakan dalam bahan makanan untuk menjaga
retrogradasi yaitu proses kristalisasi kembali pati yang telah mengalami
gelatinisasi.
Goff (2002) menyatakan
bahwa parameter yang penting dalam pemilihan CMC untuk makanan adalah derajat
subtitusi (DS) carboxymethyl (semakin
banyak yang tersubtitusi semakin mudah terlarut), keseragaman subtitusi (bagian
yang tidak tersubtitusi carboxymethyl akan
saling berinteraksi di dalam air) dan derajat polimerisasi (semakin panjang molekul,
semakin kental larutan yang dihasilkan). Menurut Estiasih (2006), CMC komersial
mempunyai DS antara 0,4-1,4. Di bawah 0,4, CMC bersifat tidak larut air. CMC
untuk makanan (food grade CMC)
mempunyai DS 0,65-0,95. Food and Drag
Administration mendefinisikan CMC sebagai garam natrium dari CMC yang
mengandung CMC tidak kurang dari 99,5% (bk) dengan DS maksimum 0,95 dan
viskositas CMC 2% minimum 25 mPas pada suhu 25oC.
Mekanisme kerja CMC
sebagai bahan pengikat (binder)
berhubungan dengn kemampuannya yang sangat tinggi dalam mengikat air, dimana
butir-butir CMC bersifat hidrofilik sehingga akan menyerap air. Jenny (1987) dalam Wahyuningsih (2006) berpendapat,
bahwa penggunaan CMC akan meningkatkan viskositas, pH dan tekstur. Peningkatan
viskositas ini disebabkan oleh kemampuan CMC dalam mengikat air sehingga
molekul-molekul air terperangkap dalam struktur gel yang terbentuk CMC. CMC
akan terdispersi dalam air, butir-butir CMC yang bersifat hidrofilik akan
menyerap air dan membengkak. Air yang sebelumnya berada diluar granula dan
bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi. Batas maksimum penggunaan CMC
sebagai bahan aditif makanan yang ditetapkan oleh GRAS (Generally Recognized ax Safe) adalah 2%. CMC berfungsi sebagai
pengikat air, pengental dan stabilizer
suatu campuran (De Man et al., 1976).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar